Jepang Klaim Cadangan Minyak Aman 254 Hari Meski Ancaman Penutupan Selat Hormuz

NUSAVARA — Pemerintah Jepang memastikan ketahanan energi nasional masih berada pada level aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Tokyo mengklaim memiliki cadangan minyak yang cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga 254 hari.

Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dalam rapat Komite Anggaran parlemen. Ia menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan situasi, terutama terkait potensi penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia.

“Pemerintah akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan pasokan energi tetap stabil,” tegas Takaichi.

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai chokepoint utama distribusi energi global. Ketegangan di kawasan itu meningkat seiring konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengatakan hingga saat ini belum terlihat dampak langsung terhadap distribusi energi Jepang. Cadangan 254 hari tersebut mencakup stok milik pemerintah dan swasta, serta tambahan sekitar tiga minggu pasokan gas alam cair (LNG).

Meski demikian, pemerintah Jepang tetap bersikap waspada. Pasalnya, lebih dari 90 persen impor minyak mentah Jepang berasal dari Timur Tengah, dan sebagian besar pengirimannya melewati Selat Hormuz.

Pelaku industri energi di Jepang juga menilai kondisi distribusi masih relatif normal. Namun mereka mengingatkan, jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung berkepanjangan, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor.

Kenaikan harga minyak global berpotensi mendorong naiknya harga bahan bakar, tarif listrik, biaya logistik, hingga harga pangan.

Kesimpulan

Dalam jangka menengah, posisi cadangan energi Jepang masih tergolong kuat. Namun ketergantungan tinggi pada impor Timur Tengah membuat Jepang tetap rentan terhadap eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *